MENYOAL (KEMBALI) PENGADILAN PUISI PENYAIR BANYUMAS


Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis dengan judul Nasib Pengadilan Puisi Penyair Banyumas Kini yang dimuat di Kedaulatan Rakyat (25/2 /2007). Dalm tulisan itu, saya bercerita tentang pengadilan puisi yang diadakan oleh Ansor Basuki Balasikh di Cilacap dan Abdul Wachid B.S. di Purwokerto, tepatnya di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Purwokerto. Keduanya kegiatan itu hanya berlangsung dalam hitungan jari saja yang akhirnya hilang tak terjejak. Lalu, tulisan saya tersebut saya akhiri dengan sebuah pertanyaan yang cukup panjang yaitu: Akankah pengadilan puisi penyair Banyumas (PPPB) akan ada lagi dan akan bernasib sama seperti pendahulunya?

Maka dalam kesempatan kali ini, saya akan menjawab pertanyaan yang sempat saya lontarkan di atas.

Setelah PPPB terakhir di kampus STAIN Purwokerto yang bernasib cukup tragis, kurang lebih enam bulan berselang, beberapa kawan-kawan muda yang notabene mahasiswa Jurusan Ilmu Budaya (pada waktu itu masih bernama Program Sarjana Bahasa dan Sastra) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yaitu Braja Eka Bayu Permana, Rahayu Puji Utami, Ryan Rachman, dan Bayu Indra Kusuma membentuk sebuah komunitas di sebuah kontrakan di bilangan Jl. Gunung Slamet Gg. Flamboyan No. 11 Grendeng Purwokerto yang diberi nama Sanggar Sastra Wedang Kendhi (SSWK).

Pada pertama kali pengenalan keberadaannya, SSWK mengadakan acara yang mirip dengan pengadilan puisi. Acara tersebut diberi nama Ngobrol Bareng Sastra atau yang sering disebut Ngobras. Pada awalnya, acara Ngobras tersebut hampir sama dengan pengadilan puisi yang dilakukan oleh Persada Studi Klub (PSK) atau PPPB dahulu. Hanya yang membedakan adalah, dalam acara tersebut, yang diadili, dibahas, dan didiskusikan tidak hanya puisi saja. Akan tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra seperti cerpen, novel, kondisi dan perkembangan sastra di Banyumas pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, serta karya-karya para penulis Banyumas yang muncul di surat kabar.

Pada awalnya memang acara Ngobras hanya dilakukan oleh SSWK, akan tetapi pada perkembangannya, kawan-kawan SSWK mengajak beberapa komunitas sastra yang ada di Purwokerto untuk ikut bergabung dengan acara Ngobras tersebut. Ada dua komunitas yang ikut bergabung yaitu Komunitas Sastra Alam (SALAM) yang dipunggawai oleh Dwiana Jati Setiaji, Bayu Murdiyanto, Agus Salim, dan Tri Januri dan Komunitas Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) yang digawangi oleh Muhammad Ayatullah, Aliv V Essesi, Agustav Triyono, Yudhistira Jati dan Ari Purnomo. Di luar komunitas itu juga tercatat dari perorangan yang tidak tergabung dalam komunitas yaitu Teguh Sucianto, Isno Wardoyo, Taufani, Lin Mursal, Vandi Romadhon dan Nofiq Amrullah.

Dan dari bergabungnya beberapa komunitas dan orang-orang tersebut di atas, tak pelak acara Nobras menjadi semakin berkembang dengan tema dan bahan perbicangan yang beragama. Selain sastra, mereka juga mendiskusikan berbagai permasalahan budaya terutama yang ada di Banyumas seperti teater, kesenian tradisonal dan sejenisnya.
Kembali ke awal, Ngobras dilakukan seminggu sekali pada malam Kamis dengan tempat berpindah-pindah. Dari markas SSWK, Salam, HTKP, hingga tempat-tempat lain seperti di kompleks stasiun kereta api, kampus, angkringan, hingga tepi jalan dan tepi sungai sambil disambi mancing hingga berlangsung dua tahun lebih.

Karena sebagian besar anggota Ngobras juga berprofesi sebagai pekerja teater, maka dalam perkembangannya, Ngobras berlangsung satu bulan sekali dengan alasan kesibukan masing-masing peserta seperti persiapan pementasan. Berubahnya waktu menghasilkan sebuah konsekuensi dari para anggotanya bahwa Ngobras yang berjalan satu bulan sekali haruslah benar-benar dijadikan sebagai kegiatan yang tidak hanya berguna bagi peserta Ngobras saja, akan tetapi juga berguna bagi khalayak yang notabene bukan anggota Ngobras. Akhirnya Ngobras pun berubah menjadi acara sastra yang bersifat lebih besar.

Beberapa waktu lalu, Ngobras menghadirkan cerpenis Dwicipta untuk berbicara seputar proses kreatif menulis cerpen kepada kawan-kawan anggota Ngobras dan diluar anggota Ngobras. Pada bulan ini, Ngobras mengadakan diskusi sastra dengan tema Sastra Yang Memasyarakat yang menghadirkan pembicara Badrudin Emce, Drs. Heri Pratiknyo MSc dan Taufani yang dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat, dari sastrawan, pekerja teater, seniman, guru, dosen, mahasiswa, hingga tukang becak dan pedagang asongan.
Dan kedepannya, Ngobras diharapkan sebagi salah satu barometer dalam kegiatan bersastra di Banyumas dan dijadikan sebagai tempat untuk berkumpulnya para sastrawan, tidak hanya dari Banyumas saja namun juga dari berbagai kota di luar Banyumas.

Selain SSWK dan bala kurawanya, kegiatan yang serupa dengan pengadilan puisi juga dilakukan oleh beberapa komunitas lain. Komunitas Sastra Bunga Pustaka (Bupus) yang dimotori oleh Restu Kurniawan, Yosi M. Giri, Asrul Tonirio, Yudhiono Aprianto mengadakan acara bedah karya terutama puisi dari setiap anggotanya yang jumlahnya lebih dari tiga puluh orang ini.

Sedangkan komunitas Beranda Peradaban yang digawangi oleh M. Aziz Rayid, Teguh Trianton, Arif Hidayat dan Ibrahim Barsilai Jami ini mengadakan bedah puisi setiap hari Kamis malam di sebuah warung angkringan. Karya-karya yang dibedah dan didiskusikan oleh komunitas ini adalah karya-karya para sastrawan Banyumas yang sudah lama malang melintang di jagad kesusastraan maupun mereka yang baru saja ikut menceburkan diri.

Kembali ke pertanyaan saya di atas, dari beberapa gambaran yang saya uraikan di atas dapat disimpulkan bahwa PPPB sudah hadir kembali dengan berbagai macam pengembangan dan format baru yang lebih menarik dan mengasyikan. Dan saya rasa bahwa kegiatan semacam itu tidak akan berakhir tragis seperti para pendahulunya sebab para pegiat sastra generasi baru di Banyumas sudah merasakan bahwa mereka membutuhkan dan dibutuhkan oleh Banyumas sebagai ujung tombak sastra Banyumas.

Klilan.

Tulisan ini dimuat di Radar Banyumas, Minggu, 12 Juli 2009



SELUSIN SAJAK UNTUK RAHAYU PUJI UTAMI, PEREMPUAN YANG DIMATAKU SANGAT CANTIK SEKALI



I
Maka ku ziarahi warnamu yang semerbak mengiris bunga purnama

II
Kau bercerita tentang laki-laki berkepala kijang yang berlari mengejar anak panah yang lepas dari gendewa Sri Rama
Laki-laki itu selalu dating dalam kepalamu mengutuk pintamu kepada Sri Rama tempo lalu:
Sepatu hak tinggi dari kulit kijang

III
Kau mendongak ke pintu langit
Menatapnya lekat
Matahari rompal separuh!

IV
Kugunting udara menjadi ribuan orakel
Kutempel perca demi perca di atas meja makan malam
Dan pada lembar terakhir menjelma wajahmu
Membayang di dalam semangkok sup yang asapnya mengebul

V
Seperti ikan
Kau berenang di kolam darahku

VI
Ting…ting…ting…
Suara gelang tanganmu mengingatkanku pada rumah
Rumah yang menyala
Terbakar asmara
Cinta!

VII
Aku menelponmu pagi-pagi sekali sayang, tapi tak ada nafasmu merangsek ke telingaku
Hanya tut…tut…tut… di ujung telepon seperti kereta api yang keluar dari mulut anak-anak playgroup di depan kelas
Bernyanyi sambil menggoyang pantat tipisnya

VIII
Aku menyukai malam
Karena saat matahari terlelap kau kan dating menjengukku
Membawa secangkir cofeemix hangat dan sayap serangga malam

IX
Sungguh nikmat
Menikmati kedua bongkah pipimu
Empuk seperti roti yang dijual keliling perumahan setiap pagi menjelang siang

X
Aku seekor lintah!
Kusedot dan kusedot cintamu hingga yang paling penghabisan
Lalu kubiarkan kau mati di ujung bibirku

XI
Di dalam bokor tubuhku tumbuh anyelir tak terkira wanginya
Setiap pagi kau kan mendapat bunga cinta itu di depan pintu bertuliskan namaku di kelopaknya
Meski tanpa pita di tangkainya

XII
Tubuhmu hijau menyegarkan
Aku senang sekali bermain sepakbola di atas tubuhmu
Bola yang menyala hijau pula
Tapi anggin bukanlah wasit yang baik
Meniup peluit sesuka hati
Hingga tiupan terakhir berbuah pinalti
Gol!
Bola kumasukkan ke dalaman jiwamu

XIII
Di pintumu
Kunci rumah kugantungkan
Di jendelamu
Aku bersekutu dengan embun



PUISIKU DI KORAN SINDO


Minggu, 14 Juni yang lalu, enam buah puisiku muncul di Koran Sindo
Puisinya sebagai berikut:

AKU PUN PULANG

Aku pun pulang
Berkendara malam dan deru aspal beku
Pulang menjemput rindu
Pada aroma bunga yang ditanam ibu di depan rumah
Pada bisik pasir yang diramu bapak menjadi istana
Pada lengking yang tersiar dari bibir adik-adikku

Dan aku pulang
Sebab aku hampir lupa
Bagaimana cara melelapkan mata pada kasur busa
Dan malam semakin basah

Sumpyuh, November 2008

LAMGIT MALAM

Langit tetaplah langit
Dia menyimpan sejuta rahasia
di laci-lacinya
Tumbuh beribu pohon penuh terka

Dan aku tetaplah di sini
Ryan kecil tanpa laku
Mendongak menebabg langit
Bersama malam menempuh waktu
Mati dalam kutuk batu

Sanggar Sastra Wedang Kendhi, September 2008


DAUN EUPHORBIA

Aku datang pagi ini
membawa daun Euphorbia
Berwarna cinta
Yang kupetik dari daun langit

Kupetik pintu dan jendela hatimu
Hati merahmu
Semerah dau euphorbiaku

"Kenapa tak kau bawa bunga yang merah?"

Karena daun
Yang menghidupkan bunga

Purwokerto, Juli 2008

LENCANA


Memetik nafas hijaumu
Di antara puisng-puing wangi bulan sabit
Seperti menyemat lencana matari emas
Di dada tanpa rongga

Berpijar!
Nafasmu pijar

Purwokerto, Februari 2008

ATHURIUM

Kekasih
aku meminangmu
menjadi sigaraning nyawaku
dengan anthurium jemanii katalog indukan
sebagai mas kawinnya

Purwokerto, Juli 2008

KEPADA SETIAP KAPAL

Kepada setiap kapal
Yang bertolak dari pelabuhan ini
Di mataku
Selalu ada puluhan malaikat mengiring di geladak
Memberi rasa percaya pada pundak nahkoda
Menggendong jiwa-jiwa bertandang ke haribaan ibunda

Namun ada puluhan banaspati
Membayang di buritan
Menyulap angin menjadi badai
Menjelma ombak menjadi monster raksasa
Mengoleng kapal
Membuta nahkoda

Kepada setiap kapal
Yang bertolak dari pelabukan ini
Dalam laut dapat diduga
Isi laut siapa terka
Ikan bisa menjelma gurita raksasa
Buih bisa menjelma pusar air mata

Seperti hutan,
Laut adalah belantara tak bertuan
Penuh tanda Tanya
Kita bisa berburu lumba-lumba
Melihatnya menari di atas karpet air
Namun bilamana
Hiu pun tak segan mengaum
Melontarkan gigi-gigi pisaunya

Kepada setiap kapal
Yang bertolak dari pelabuhan ini
Maka segera bersurat
Bila sauh tlah kau unduh

Purwokerto-Kebumen, September 2008


Selamat, selamat sekali lagi selamat